Premanisme, yang sering terlibat dalam aksi kekerasan dan intimidasi, terkadang dipakai atau dimobilisasi oleh kelompok berkepentingan untuk menghentikan kegiatan yang mereka anggap mengancam atau merugikan. Dalam konteks diaspora, ada beberapa faktor yang menjelaskan keterlibatan preman dalam pembubaran diskusi:
Sensitivitas Politik: Diskusi diaspora sering kali membahas isu-isu politik negara asal, seperti pelanggaran hak asasi manusia, kebijakan pemerintah, atau ketidakpuasan terhadap rezim yang berkuasa. Jika diskusi tersebut dianggap mengancam kepentingan kelompok politik tertentu, mereka bisa memobilisasi preman untuk mengganggu atau membubarkan acara tersebut.
Penggunaan Preman sebagai Alat Tekanan: Beberapa aktor politik atau bisnis bisa menggunakan preman untuk membubarkan kegiatan yang merugikan citra atau kepentingan mereka. Preman ini bertindak sebagai alat tekanan non-formal untuk menghindari keterlibatan langsung dari aparat hukum atau lembaga pemerintah, sehingga tindakan tersebut lebih sulit dilacak secara hukum.
Ketidaksetujuan Kelompok Tertentu: Preman bisa juga berasal dari kelompok masyarakat yang tidak setuju dengan pandangan yang disampaikan oleh diaspora, terutama jika diskusi tersebut dianggap merendahkan atau melawan kelompok tertentu yang kuat di wilayah tersebut. Misalnya, diskusi yang mengkritik pemerintah atau kelompok tertentu bisa memicu reaksi premanisme yang didukung oleh kelompok pro-status quo.
Penyebaran Rasa Takut: Preman sering kali menggunakan kekerasan dan ancaman untuk menciptakan rasa takut di kalangan peserta diskusi, sehingga acara terpaksa dihentikan. Ini adalah cara efektif untuk membungkam diaspora yang ingin menyuarakan pandangan kritis mereka.

No comments:
Post a Comment